Sebuah Sajak Menjelang Pagi

Puisi Hajriansyah

Ketika memandang sebuah pohon pisang dari kejauhan
Seekor domba mungkin saja sedang berhalusinasi
fatamorgana dianggapnya kebenaran mutlak
ia menjadi rentan terhadap pendapat teman-temannya
dan dianggapnya
dirinya tuhan

21-11-2002

Sumber: Kumpulan Puisi “Jejak-jejak Angin”, 2007

Satu Tanggapan ke “Sebuah Sajak Menjelang Pagi”

  1. harikuhariini Berkata:

    om…. kok pake nya pohon pisang dan domba? padahal kan domba jarang ada di kebon pisang.
    pengen taaauuu makna sebenarnya saia…

    @mengapa mesti pisang? pisang hidup sekali saja dan berbuah sekali saja (seperti halnya manusia yang hidup sekali saja). Dan domba adalah lambang nafsu duniawi: Maka ketika seseorang yang berjiwa domba ini melihat kehidupan(seperti pisang) ia tetap tidak sadar “rentan terhadap pengaruh orang lain dan pendapat dirinya sendiri bahkan menuhankan diri (kamingsun)”

Tinggalkan Balasan