Cermin Antik

Cermin Antik

Suatu ketika kelak seseorang dari seberang datang ke pulau *Fal De Fal tujuannya ingin menemui tukang omong kosong. Sampailah ia di pulau itu dengan selamat. Ternyata menemui tukang omong kosong tidak semudah yang dia bayangkan. Setiap jalan ia bertanya: “Dimanakah tukang omong kosong itu berada?” Semua menjawab tidak tahu. Kata semua orang: “Di sini tak ada yang anda cari. Mungkin ia ada di pulau lain. Pulau ini pulau yang jujur walau namanya Fal De Fal. Sepertinya anda salah mencari tukang bohong di pulau ini.”

Demikian di ceritakan seseorang dari tanah seberang itu tidak akan menyerah sebelum menemukan tukang omong kosong ini. Apa gerangan tujuannya? Tak seorang yang tahu. Ia mencari tapi tak tahu harus ke mana mencari. Adakah di sana diantara bebatuan gunung? Di sepoinya angin yang mendesir? Atau gubug reyot di pinggir hutan?

Pada suatu temaram subuh yang tidak di sengaja oleh siapa pun seseorang dari seberang itu di kejutan oleh seekor burung hantu yang dapat berbicara. “Jika kamu ingin menemui tukang omong kosong carilah pada tong kosong di siang bolong di puncak kebohongan, maka ikuti aku…!!!” Burung hantu itu menatap dan bicara sambil berlalu dan menggepakkan sayap terbang. Seseorang dari seberang itu berlari mengikuti terbangnya burung hantu.

Sampailah seseorang dari seberang itu di sebuah puncak gersang tanpa tanaman. Dia lihat sebuah tong kosong bertuliskan besar-besar SELAMAT DATANG DI PUNCAK KEBOHONGAN.

Tukang omong kosong tiba-tiba meloncat dari tong kosong sambil berteriak: “Kamu pasti mencari cermin antik?”

“Ya, tentu saja kamu mencurinya dariku,” kata seseorang dari seberang itu.

“Bagaimana kamu tahu? Sedang kita tidak kenal,” tukang omong kosong bertanya lagi.

“Sebagaimana kamu tahu aku datang mencari cermin antik,” jawabnya.

“Cermin itu sudah saya jual,” tukang omong kosong menjelaskan keberadaan cermin antik singkat.

“Jual? Seenaknya sendiri kamu mencuri lalu menjual,” muka seseorang dari seberang itu memerah marah.

“Tidak aneh bukan, kucuri lalu kujual? Lain halnya jika saya curi lalu saya telan ,” kata tukang omong kosong sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Bedebah! Kamu ngeles terus… Intinya saya mengambil kembali cermin itu, secara paksa atau baik-baik. Secara baik-baik atau paksa tinggal pilih yang mana?”

“Tenang bung. Cobalah lihat keadaanku berumah tong kosong yang bolong apa kamu tidak kasihan? Saya menjualnya dengan imbalan sebuah tong kosong ini? Apa kamu tidak menaruh iba dengan seseorang yang memprihatinkan ini, menggadaikan cermin dengan rumah aneh yang berbentuk tong kosong demi hidup yang layak seperti orang berumah?”

“Heh apa peduliku. Kelemahanmu itu kau jadikan alasan untuk menopengi dirimu dalam kubangan kotor ‘mencuri’ itu? Kata-katamu tidak akan merubah sikapku, sekalipun kamu nangis darah. Saya tak akan mengurungkan niat saya untuk mengambil cermin itu. Apa saya kurang baik? Aku datang hanya mengambil hak saya tanpa menghakimimu! Tanpa menghukummu!” Bentak Seseorang dari seberang.

“Ok, akan ku kembalikan, tapi kamu harus mendengar kisahku,”  pinta tukang omong kosong.

“Hoek! Aku sudah muak dengan kata-katamu! Sekali lagi aku minta! Pilih memulai cerita itu atau mati?” Seseorang dari seberang mengambil belati dari pinggangnya.

Tukang omong kosong melotot menatap belati di tangan seseorang dari seberang sambil terus bicara : “Tersebutlah suatu cerita judulnya Cermin Antik, Suatu ketika tukang omong kosong menjual cermin antik pada seorang gadis manis dari kota tua, dia adalah Na… Aaaaargh! Sejurus kemudian tukang omong kosong itu roboh bersimbah darah tapi dia menggenggam sesuatu. Secarik surat, entah surat untuk siapa.

Seseorang dari seberang buru-buru menuju tong kosong, ia ingin membuktikan jangan-jangan cermin itu hanya di sembunyikan disitu, di dalamnya benar-benar kosong, jangankan cermin antik, seekor semut pun tak ada di situ. Ia kemudian tertarik dengan apa yang digenggam tukang omong kosong itu. Secarik kertas surat. Mungkin ini pesan terakhir atau apa? Memang di situ tak ada yang istimewa selain surat itu dan baju lusuh bersimbah darah yang menempel di tubuhnya.

Seseorang dari seberang mengambil surat itu dan dia baca:

Untuk seseorang yang datang di siang bolong dengarkan cerita saya.

Saya benar-benar tidak sedang bohong menulis surat ini padamu. Saya akan menceritakan kabar burung, ketahuilah burung itu adalah burung hantu yang mengantarmu kemari. Dia menceritakan padaku dengan sebuah tembang dalam seratus pupuh yang indah bernama “Serat Janma Nania” Saya tidak akan menuliskanya di sini. Saya hanya ingin bercerita isinya.

Seseorang itu melanjutkan membaca yang dalam batinnya sudah di huni kemuakan, akan tetapi tulisan itu ditulis dengan darah maka dia teruskan.

Nania gadis manis itu mendapat cermin. Entah dari mana dia dapatkan cermin itu. Awalnya dia tak menyangka keantikan cermin itu. Secara tidak sengaja ia ingin pergi ke sekolah dengan cepat karena kesiangan. Saat bercermin pada cermin antik itu dia melihat ruang kelasnya, kemudian dia mencoba menyentuh bangku di kelasnya.  Apa yang terjadi? Dia dapat menyentuhnya, seolah tiada batas antara bangku di ruang kelasnya dan rumahnya. Begitulah hari-hari Nania gadis manis tinggal di kota tua dengan cermin antik itu. Mau kemana dia tinggal masuk ke cermin maka sampailah dia disana.

Seseorang dari seberang itu tambah tertarik. Selama ini ia tidak tahu apa keantikan dari cermin, yang ia tahu hanya waktu ia memancing dan menemukannya di pinggir sungai. Yang antik menurutnya tidak seperti itu tetapi ukiran di pinggir cermin itu mirip gunungan yang bersinar pelangi.

Cermin itu dia pajang di dinding kamar mandinya disamping lukisan wajah seseorang dari seberang. Saya yang menjual lukisan itu dengan imbalan tong kosong. Jadi jika saya sering mendongeng tentang menjual cermin dengan imbalan tong kosong itu salah besar, itu hanya kebohongan belaka. Soal cermin antik, saya tidak menjual kepadanya. Sebenarnya cermin antik sudah saya buang ke sungai kering bernama sungai kepedihan.

Maka bayangkanlah betapa mudah hidupnya. Dia tinggal bercermin seluruh aktifitasnya akan terselesaikan. Awalnya keasyikan itu membuat orang tuanya bingung. Ada apa dengan Nania? Ada perubahan besar dalam sikapnya. Punya kesibukan apa dia?

Waktu Nania asyik berdandan akan pergi ke rumah Rani temannya. Mamanya datang.

“Nania, hari-hari ini kamu sibuk sekali di dalam kamar, ada apa Nania?” tanya Mama.

“Nggak ko Ma… Biasa aja. Mau tahu aja urusan anak muda,”  Kata Nania

“Nania, Mama kan ingin memastikan aja, ada apa dengan kamu. Sakit? Patah hati atau kenapa? Wajar dong orang tua mengkhawatirkan anaknya? Kamu tu nggak terlihat cerewet lagi. Dulu kamu itu bawel sekali ngritik Mama mulai dandan, belanja, sampai apa saja bahkan kamu suka ngomelin Kardi supir kita itu sebelum berangkat sekolah. Nah sekarang kamu nggak pernah lagi. Bahkan ke sekolah pun nggak pernah di anterin sama Kardi tiba-tiba saja kamu di sekolah. Waktu makan malam bersama tiba-tiba kamu sudah duduk di ruang makan duluan. Nggak lagi seperti dulu di teriaki dulu sama Iyem ‘Non turun di tunggu Mama Papa tu di bawah!’” Kata Mamanya menegaskan panjang lebar.

“Percaya de.. Nania ga pa pa ko Ma..  Udah lah Nania sehat-sehat aja. Apalagi patah hati nggak banget…  Nania mau main ke rumah Rani sekarang,” Kata Nania.

“Hmmm. Lukisanku di kamar mandi Nania. Kenapa tidak sekalian orangnya saja yang di tempel disana?” Bisik hati seseorang dari seberang itu.

“Hentikan pikiran jorokmu Ki Sanak saya tidak main-main dengan cerita saya!“ Tiba-tiba ada suara dari tong kosong itu. Seseorang dari seberang terkejut buru-buru melihat tong itu. Tak ada sesuatu di sana. Di lihat kembali mayat itu tetap mayat. Dia tambah tertarik dengan cerita itu. “Ini benar-benar cerita sakral bahkan alam pun mengingatkanku ketika aku berfikir jorok,” katanya dalam hati. Maka dia putuskan untuk melanjutkan membaca.

“Saya mau ke rumah Rani sekarang,”  sambil beranjak menuju kamar mandi.

“Nania..!!! Ke rumah Rani ko ke kamar mandi sih…” Teriak Mamanya .Nania tak menyahut.

Cerita selanjutnya Nania di kira Mamanya hilang karena ke kamar mandi tidak keluar-keluar dan di tengok di dalam kamar mandi itu tidak ada. Bahkan sampai lapor polisi segala. Tapi kisah itu tidak akan saya tulis di sini. Intinya dia benar-benar di rumah Rani.

“Cerita bodoh. Lalu bagaimana dia kembali kerumahnya dengan cermin itu? Katanya tinggal masuk ke cermin itu, dimana saja dan kapan saja,” Gumam seseorang dari seberang itu.

Anda pasti menyangka cerita ini bodoh, tapi Nania bukan orang bodoh Ki Sanak. Ia telah memecah cermin itu menjadi beberapa bagian. Cerita Nania memecah cermin juga saya tiadakan karena menurut saya tidak penting. Saya akan menceritakan konfliknya saja. Menurut kabar burung hantu itu kira-kira begini kisahnya.

Nania mulai bosan dengan pecahan cermin itu. Pada hari minggu Nania bangun pagi-pagi sekali. Ia ingin hari ini tidak main dengan pecahan cermin itu. Ia ingin jogging dengan mengajak Coki anjing kesayangannya. Ketika ia ke kandang anjing itu tanpa lewat cermin betapa kaget dia. Anjing itu menjadi dirinya. Kontan dia berteriak-teriak. Seluruh isi rumah terkejut dan menghampiri Nania. Mereka melihat Nania berteriak-teriak “Tolong!!! Hantu!!!” Mamanya menghampiri.

“Lihat Ma.. Si Coki berubah menjadi saya” Katanya sambil menutup mata.

“Ah, kamu ini ada-ada saja lihat si Coki menunggumu dengan setia di situ lihat!!! Bahkan dia tidak menggonggong,” kata Mamanya.

Nania membuka mata dan memandang Mamanya.

“Tidak!” Teriak Nania.

Mamanya tambah bingung. “Kenapa kamu Nania.!. Nania.!,”

Nania jatuh pingsan. Semua tambah bingung. Nania di bawa ke kamarnya. Tak lama kemudian dia siuman. Ayahnya yang duduk di sampingnya memegang tangannya.

“Lihat Ma.. dia sudah siuman,” kata Papanya.

Mamanya memandang Nania dengan tatapan lembut seorang ibu. “Nania kamu kenapa? Cerita ke Mama”

Nania terbelalak melihat Mama, Papa, Iyem, Kardi mirip  dengannya. Tidak hanya mirip bahkan persis. Dia berteriak “Tolong saya!.. tolong!… Saya ada di mana-mana,” katanya sambil beranjak dari tempat tidur.  Mereka saling pandang “Nania lihat saya ini. Papa kamu. Seorang laki-laki tak mungkin dong berfisik persis sepertimu seorang wanita?” Nania tetap menutup mata. “Tolong saya! Tolong saya!” Teriaknya.

Diceritakan kemudian Nania menutup mata sambil cerita tentang cermin itu. Nania tetap menutup mata. Ia cerita panjang lebar tentang cermin itu, dari mana mendapatkannya. Sampai seluruhnya. Tentang apa saja yang dia lakukan dengan cermin itu. Diceritakan pada pupuh tujuh puluh lima keluarga Nania memutuskan untuk mendatangkan seorang psikiater yang ahli hipnotis juga. Seperti di bawah ini kira-kira percakapan psikiater itu dengan Nania.

“Nania dengarkan saya, dengarkan sugesti yang saya berikan padamu. Nania kamu sekarang ada di sebuah tempat dan tempat itu sangat Nania senangi. Nania berjalan pelan. Berjalan menuju sebuah rumah yang indah. Dimana Mama dan Papa kamu menyambutmu dengan senyum yang indah. Nania kemudian mendatanginya dan perhatikan wajahnya! Perhatikan wajah itu! Awalnya wajah anda. Anda sangat kaget melihatnya. Kemudian Anda dapat menenangkan diri dengan mengambil nafas yang panjang dan mengeluarkannya seolah seluruh masalah Nania hilang bersama nafas itu. Ada sesuatu kekuatan aneh entah dari mana datangnya. Sangat kuat dan kekuatan itu mula-mula dari tulang belakang anda. Menyebar ke seluruh tubuh sangat kuat dan kuat. Kemudian kekuatan itu menuju mata anda. Mata anda jadi sangat jelas. Anda melihat bahwa di depan anda bukan wajah anda tetapi wajah Mama dan Papa anda. Sekarang buka mata anda! Pelan-pelan dan lihat sekeliling anda tidak ada yang berubah. Mama, Papa, Iyem dan Kardi. Kemudian anda menoleh ke arah saya. Tatap saya dan wajah saya juga tidak mirip dengan wajah anda. Sekarang benar-benar buka mata Nania dan lihat saya!” Perintah psikiater itu.

Nania mulai membuka matanya pelan-pelan dan dia lihat psikiater itu tersenyum padanya.

“Bagaimana perasaanmu Nania? Bagaimana dengan wajah saya apakah mirip dengan anda?” Tanya Sang Psikiater.

Nania diam dan memandang dengan tatapan tajam. “Benar, tidak seperti yang saya duga dan saya takutkan. Wajah anda memang tidak sama dengan wajah saya bahkan seluruh fisik anda tidak sama” Nania memandang satu per satu orang-orang di ruangan itu. Sama sekali tidak ada yang mirip dengannya. Anjingnya Coki di situ, di gendong oleh si Kardi juga sama sekali tidak mirip dengannya.

“Ada apa dengan saya ini pak?” Tanyanya

“Kamu hanya banyak pikiran dan sekarang masalah itu sudah hilang,” kata psikiater itu menjelaskan.

“Tidak seperti itu. Saya bermain-main dengan pecahan cermin antik itu dan begini jadinya,” katanya lagi.

“Cermin? Tidak ada cermin antik di rumah ini Non” Iyem memberitahu.

“Cermin di kamar mandi yang saya pecahkan itu? Di mana sekarang?” Nania buru-buru mengecek laci di meja sampingnya. Nania melihat pecahan cermin yang sering di bawanya dan dia menyerahkan ke psikiater. “Ini cerminnya. Saya telah banyak bermain-main dengan cermin ini. Saya bisa ke mana saja dengan cermin ini” Nania menjelaskan.

“Dari mana Nania mendapatkannya?” Tanya psikiater itu.

Tiba-tiba Nania kaget sungguh kaget. “Cermin itu.. Cermin itu.. Em.. ”

Mama, Papa, Iyem, Coki, Kardi tiba-tiba lenyap tidak ada di ruangan itu.

Psikiater itu kemudian bertanya lagi:”Sudahlah lupakan cermin itu seperti hilangnya orang-orang di rumah ini. Sekarang saya bertanya. Apakah kamu ingat saya Nania?”

“Anda seperti emmm… Seperti orang dalam lukisan itu,” katanya terbata-bata.

“Coba ingat-ingat lagi siapa saya? Apakah hanya mirip lukisan di dinding kamar mandi itu?” Kata psikiater itu lagi.

“Sepertinya  wajah anda adalah eh em.. Saya seperti sudah mengenal anda sangat dekat bahkan dekat sekali. Sepertinya Edo su su… emm ah, tidak mungkin aku belum…”

“Ya saya ini Edo bekas suamimu Nania.. Sudah relakanlah Nania kita ini telah mati ratusan tahun lalu. Apakah kamu masih ingat ketika berangkat bulan madu ke sebuah villa di puncak itu? Tragedi itu? Kecelakaan itu? Tepatnya kematian kita? Dan kita tergelincir ke sebuah sungai kering. Semua telah berlalu. Kita sekarang di alam lain maksud saya kamu, demikian juga dengan saya. Saya juga telah punya tempat sendiri. Relakanlah semua… Seperti mainan cerminmu yang pecah. Baiklah, waktu saya tidak lama di sini, karena ada tugas lain yang lebih penting. Tunggulah di sini, di rumah barumu ini. Semoga kamu kerasan dengan rumah ini… Sampai seseorang akan datang menunjukkan apa yang akan terjadi nanti. Selamat tinggal.”

Edo kemudian hilang entah kemana. Nania ingat semua apa yang telah dialami seperti permainannya dengan cermin-cermin itu. Permainan yang mengasyikan kemudian pecah berkeping-keping. Kepingan cermin yang dapat mengantarkannya sampai di rumah baru ini. Pecahan cermin yang menyadarkan bahwa dia telah mati.

Catatan: darah yang saya tulis ini adalah darah sepasang sejoli yang celaka pada sebuah sungai kering di bawah puncak kebohongan.

“Omong kosong!!!”  Teriak seseorang dari seberang itu sambil meludah ke mayat Tukang Omong Kosong.

*Fal De Fal adalah omong kosong kata yang saya culik dari puisi M. Nahdiansyah Abdi dalam kumpulan puisi Jejak Jejak Angin berjudul Fal de Fal.

Ponorogo, 9 Mei 2009 dini hari

2 Tanggapan ke “Cermin Antik”

  1. Abdul Syair Berkata:

    Sangat merugilah anda jika belum berkunjung ke Blog aku

    @ok tak ke situ

  2. N Berkata:

    gak hobi moco………..
    males……………….
    Lanjutkan pri

    @sak karep.. wes… Saya akan lanjutkan sesuai pesan anda

Tinggalkan Balasan