Wawancara

Cerpen Salman Rusdie

Saat wawancara berlanjut aku mulai merasa yakin bahwa aku tak akan mendapat pekerjaan itu. Pengalamanku menghadapi hal-hal semacam ini membuatku sensitif terhadap kebenaran-kebenaran tak terkatakan yang terhampar dibelakang formalitas mereka, seperti penembak gelap di balik sebuah pertempuran.

Pada mulanya aku menyalahkan diriku sendiri atas kegagalan-kegagalanku: aku pasti telah memakai jas yang kurang sopan, ada noda di dasiku dan aku menyela pertanyaan dalam dua kali kesempatan berbeda. Aku berusaha keras untuk mengatasi kesalahan-kesalahanku—berpakain ceroboh, tergopoh-gopoh, terlalu jual mahal atas tawaran yang diajukan. Aku mengubah diri menjadi sopan, rapi dan rendah hati. Tapi hasil wawancara itu selalu sama. Maka aku mencoba untuk bersikap angkuh.

Aku masuk ruang wawancara dengan rambut kelihatan tak tersisir, tali sepatu tak tersimpul, ritsleting celana kubiarkan separuh terbuka. Aku mencemooh musuh bersetelan rapi tanpa ekspresi dibalik meja lalu berkata tentang sesuatu yang salah di perusahaan tempatnya bekerja dan hal-hal yang akan kulakukan untuk membereskannya—beri aku waktu dua hari saja maka semua akan beres. Sesekali aku mengibaskan jari-jemariku di bawah hidungnya. Ternyata nasibku tak juga berubah.

Pada kesempatan selanjutnya, aku mencoba berpura-pura. Aku berbicara dengan lancar pada pewawancaraku, berjanji akan bekerja keras dalam melakukan tugas-tugasku: memfotokopi bon-bon, mengepak biskuit anjing berbentuk tulang, menjual mesin pertanian, mengemas minuman jeruk buatan ke dalam botol yang menurutnya ”tak mengandung bahan yang membahayakan.” Sepasang mataku membeliak tulus. Aku memohon diberi kesempatan untuk membuktikan pengabdianku dalam pekerjaan semacam itu. Ternyata siasat itu tak juga berhasil. Akhirnya aku merasa putus asa. Aku terus mengikuti wawancara-wawancara untuk membuktikan bahwa aku masih hidup, tapi tak lagi berharap apapun.

Aku menatap lembut wajah pewawancara terakhirku—wajah yang sama dengan yang pernah kulihat dibelakang seratus meja semacam itu dengan dan di atas seratus kemeja putih polos serupa itu—penuh keyakinan bahwa aku akan gagal lagi ketika tiba-tiba saja penyebab semua masalahku terlintas di kepala. Jelas sekali aku begitu tegang sehingga tak mampu menyadari hal itu sebelumnya.

Wajah yang sama. Ya pada setiap wawancara yang kuhadapi adalah sosok lembut yang sama. Mungkin tidak tepat seperti itu—tapi begitu adanya. Aku yakin. Dan akhirnya, tanpa bisa menutupi perasaan menangku, aku langsung menohoknya.

“Itu memang kau’kan?”

“Maaf?” Ia bertanya kaku.

Tapi aku tak tertarik untuk menghentikan serangan. “Selalu kau,” aku berkeras.”Aku benar. Aku tahu itu.”

Wajahnya berubah, ia menatapku dengan pandangan menghina. “Ya,” Ia mengakui tanpa malu sedikitpun. “Kebanyakan di antara orang-orang bodoh sepertimu tak pernah menyadarinya.”

“Tapi kenapa?”

Dia mengabaikan pertanyaanku.”Aku akan mengatakan satu hal padamu,” ujarnya. “Kau membuatku sibuk. Lihatlah dari sudut pandanganku. Aku harus tahu apakah kau akan berubah di masa depan. Aku harus selangkah lebih maju membuat daftar pertanyaan yang layak. Oleh sebab itulah aku bisa berada di sini, di belakang meja ini, saat kau masuk. Ada malam-malam di mana aku bahkan tak bisa tidur . Ya… Semua hal tentu ada ongkosnya.”

Aku ingin bertanya bagaimana pertanyaan yang layak itu dibuat dan tentang hal-hal lainnya, tapi aku merasa yakin bahwa ia tak akan sudi menjawabnya. Lalu aku berkata,” Kini aku berhasil membuka kedokmu , kuharap kau enyah dan…”

“Jangan terlalu berharap,” semburnya.”Tak ada bedanya sama sekali.”

“Kau telah gagal,” ejekku. “Kau akan kehilangan pekerjaanmu dan bernasib sepertiku. Mereka akan menugaskan seorang pewawancara untuk mewawancaraimu saat kau mencari pekerjaan baru!”

“Wawancara ini telah selesai,” ujarnya, wajahnya kembali tenang dan datar. “Sayang sekali Anda tak cocok untuk bekerja di perusahaan kami Tuan…”

Pada saat akan mengikuti wawancara berikutnya, aku masih diliputi kegembiraan. Aku berpakain rapi (aku memutuskan untuk merubah strategi untuk sementara) dan bersiul di dalam lift yang membawaku ke ruangan tempatku mesti berduel untuk sebuah pekerjaan. Saat dipanggil masuk, aku merasa seolah-olah hidungku ditinju dengan telak.

“Berikutnya!” Suara itu terdengar dari balik pintu yang setengah terbuka dan pada saat itu aku baru tersadar bahwa riwayatku telah tamat. Ia bahkan tak mengizinkan seulas senyum tersungging di bibirnya saat aku masuk. Dengan gaya profesional dan teliti ia mulai mengulas data riwayat hidupku. Pada saat itu aku menyadari bahwa aku harus membunuhnya.

Aku merencanakan pembunuhan terhadapnya berminggu-minggu, selama masa itu aku mengikuti empat wawancara dengan musuhku yang tak kenal ampun itu. Setidak-tidaknya aku mencoba membuat rencana; tapi aku tak bisa memikirkan satu carapun untuk melakukannya. Ada sebuah agenda di atas meja, lalu surat-surat dan setumpuk arsip. Semua orang akan tahu siapa yang berada di dalam ruang wawancara bersamanya, seandainya aku berhasil membunuhnya dan minggat tanpa tertangkap. Ada saat-saat aku dipenuhi rencana-rencana itu, tapi kemudian semuanya berlalu karena aku tahu bahwa satu-satunya pembunuhan yang mungkin kulakukan hanyalah bunuh diri, dan aku masih ingin hidup.

Pada suatu hari aku berkata pada diriku sendiri, “Persetan Semuanya!” Lalu aku pergi untuk mengikuti wawancara dengan sebilah pisau roti terselip di balik saku baju bagian dalam jasku.”Berikutnya,” Suara itu memanggil. Aku masuk dan menggorok lehernya. Darah membanjir. Resepsionis yang mendengar jeritan saat sekarat, masuk ke dalam ruangan dan berdiri di dekat pintu, menghalangi jalanku untuk kabur. Aku menimbang-nimbang apakah aku juga mesti membunuhnya atau tidak.

Pintu di belakang meja pewawancara terbuka. Aku tak pernah memperhatikan sebelumnya bahwa ada pintu semacam itu di ruangan semacam itu. Pintu bercat putih pada dinding berwarna putih. Tapi rasanya pintu semacam itu selalu ada karena bagaimana mungkin seseorang akan tahu bahwa aku memilih hari ini, ruangan ini untuk membunuhnya? Ya, persoalannya adalah kebodohanku sendiri yang tak teliti dalam melakukan pengamatan.

Pewawancara itu terkapar di lantai dengan pisau roti tertancap di tenggorokan. Orang yang baru muncul dari balik pintu melangkahi mayatnya dan mengulurkan tangan kanannya menyalamiku. Aku menyambutnya serta-merta. Tubuhku berlumuran darah—bukan pemandangan yang indah percayalah.

“Kini kita berada dalam sebuah situasi,” ujar lelaki itu. “Dengan senang hati kutawarkan sebuah pekerjaan untuk Anda.”

Seorang pesuruh masuk dan membawa mayat itu keluar ruangan. Dua orang perempuan petugas kebersihan menyusul masuk dan mulai membersihkan dinding dan karpet yang memerah oleh darah tanpa menyisakan noda sedikitpun. Teman baruku membuka laci meja lalu mengeluarkan sejumlah pakain bersih. Ia mengulurkannya padaku.”Pekerjaan macam apa?” Akhirnya aku basa-basi berkata.

Lelaki itu berjalan ke arah kursi pewawancara dan berdiri dibelakangnya.

“Sebuah lowongan terbuka,” ujarnya dengan nada penyesalan.”Sebuah pekerjaan dengan gaji tinggi.”

Aku duduk di atas kursi itu dan mulai mempersiapkan diri. Rona wajahku berubah menjadi lembut, tenang dan datar. Aku bertanya dalam hati: Bilakah tiba saatnya seseorang mendatangiku dengan sebilah pisau roti terhunus di tangannya?

Sumber: kumpulan cerpen “Anjing Dari Titwal”, 2003

Satu Tanggapan ke “Wawancara”

  1. Eka Situmorang-Sir Berkata:

    Cerpen yang luar biasa !
    Membawa pembaca masuk ke dalam pikiran psikopat macam ini yang akhirnya dpt kerjaan jadi pembunuh bayaran ya?
    (Bener gak ni kesimpulan gue?)

    @Hmmm mungkin

Tinggalkan Balasan