17-11-2009

November 24, 2009

Pikiran

Angen-angen teka nyangking pedang
Kira-kira arep merjaya cuwa lan kuciwa
Tak coba mikir kanthi wening
Masalah apa bae kang tak sandang

Pikiran mabur sundul langit
Impen muluk-muluk semliweran
Wengi kang cepet
Nalarku mlayu ora karuan parane

Angen-angen teka maneh
Sing gawe mangkel nyeret cuwa-kuciwa
Aku limbung ana klasa
Nalar kang wening kobong dadi awu

Hujan

Hujan puisi
Saat-saat yang menyenangkan
Membentuk kristal air yang indah

September…
Tiada hujan yang sungguh-sungguh
Puisiku sedang sekarat
Dibunuh kelucuan-kelucuan yang tak kusengaja

Saat puisi itu mati
Aku memakamkannya
Tak kusangka…
Di rumah banyak juga pelayat berkostum Popeye

Pengakuan

Dengan senang hati
Imajinasi saya telah saya bunuh
Lalu mengemasnya dalam kardus
Pada penutup kardus saya tulisi:
Bekas Puisi

Beberapa kali saya akui menyontek puisi orang
Tapi, yang saya dapat kematian kata-kata
Suatu hari saya mencoba merangkai kata
Alhasil saya tak menemukan kata-kata secuilpun

Impian

Impian muluk-muluk saya menyelinap
Membeli rumah, tanah, mobil dengan sebait puisi
Atau membangun pemukiman dengan sajak-sajak

Saya telah berharap banyak lewat bait-bait puisi
Tapi semua orang mampu berpuisi
Bahkan mereka dapat bersajak dengan apik

Setelah berbulan-bulan saya mencoba peruntungan
Melelang puisi
Tiada yang menawar
Tiada yang peduli

Hari berikutnya saya kubur impian saya
Hari ini saya putuskan mencangkul untuk puisi
Menggembala kambing untuk puisi
Suatu saat kambing jantan itu saya kurbankan
“Untuk Puisiku Tercinta”
Baca entri selengkapnya »


BAYANGAN KEMATIAN

November 24, 2009

Cerpen Gao Xingjian

KAU tak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tak lagi menganggapnya sebagai musuh khayalan. Kau meninggalkan bayangan itu, berhenti berkhayal dan melamunkan hal aneh-aneh dan kini terpuruk dalam kehampaan yang damai. Kau datang ke dunia dengan telanjang, tiada yang membutuhkanmu dan andai kau membutuhkan sesuatu, kau tak akan mampu melakukannya. Satu-satunya takutmu hanyalah pada maut yang datang tiba-tiba.

Kau ingat rasa takutmu pada maut berawal dari masa kecil. Saat itu rasa takut itu lebih besar daripada kini. Kesedihan sepele membuatmu cemas, seolah-olah itu adalah penyakit yang tak terobati dan saat kau jatuh sakit kau akan mengigau ketakutan.

Kau telah bertahan melalui berbagai penyakit dan bencana yang kau lewati dengan kemujuran. Kehidupan itu sendiri adalah keajaiban yang tak bisa dijelaskan dan hidup di dalamnya adalah perwujudan keajaiban. Tak cukuplah bahwa sesosok tubuh yang sadar bisa merasakan sakit dan senang dalam hidup ini? Apalagi yang mesti dicari?

Baca entri selengkapnya »


SEPI

November 9, 2009

Kalbu menep meneng
Ati kang tumata
Ora ana panasing hawa

Sepi kuwi banyu,
mili menep ing kalbu,
ing sungsuming jiwa iki

Sepi wengi iki
Heneng, hening, heling
Jagad lagi gumulung

Ponorogo, 9 September 2009

Geguritan ini dimuat Kalawarti Panjebar Semangat; edisi 42; 17 Oktober 2009


BUAH DELIMA

November 9, 2009

Cerpen Yasunari Kawabata

Dalam hembusan angin malam daun-daun pohon delima jatuh berguguran. Helai-helai dedaunan terserak melingkar di pelataran.

Kimiko terkejut saat melihat pohon itu meranggas di pagi hari dan terheran-heran menyaksikan lingkaran dedaunan yang terserak begitu sempurna di bawahnya. Ia berharap angin akan mengacaukannya.

Sebutir buah delima yang ranum tertinggal di pohon itu.

“Kemarilah, lihat itu,” seru gadis itu pada ibunya.

“Aku menyia-nyiakan pohon itu.” Ibunya memandang sekilas ke arah pohon delima itu dan kembali ke dapur.

Semua itu membuat Kimiko teringat kesepian mereka. Pohon delima di samping beranda itupun kesepian dan terlupakan.
Baca entri selengkapnya »