SEPI

November 9, 2009

Kalbu menep meneng
Ati kang tumata
Ora ana panasing hawa

Sepi kuwi banyu,
mili menep ing kalbu,
ing sungsuming jiwa iki

Sepi wengi iki
Heneng, hening, heling
Jagad lagi gumulung

Ponorogo, 9 September 2009

Geguritan ini dimuat Kalawarti Panjebar Semangat; edisi 42; 17 Oktober 2009


BUAH DELIMA

November 9, 2009

Cerpen Yasunari Kawabata

Dalam hembusan angin malam daun-daun pohon delima jatuh berguguran. Helai-helai dedaunan terserak melingkar di pelataran.

Kimiko terkejut saat melihat pohon itu meranggas di pagi hari dan terheran-heran menyaksikan lingkaran dedaunan yang terserak begitu sempurna di bawahnya. Ia berharap angin akan mengacaukannya.

Sebutir buah delima yang ranum tertinggal di pohon itu.

“Kemarilah, lihat itu,” seru gadis itu pada ibunya.

“Aku menyia-nyiakan pohon itu.” Ibunya memandang sekilas ke arah pohon delima itu dan kembali ke dapur.

Semua itu membuat Kimiko teringat kesepian mereka. Pohon delima di samping beranda itupun kesepian dan terlupakan.
Baca entri selengkapnya »


Panjat Pinang

Oktober 22, 2009

panjatPenonton mulai bersorak riuh menyambut kelompok-kelompok pemanjat masuk tanah lapang, bersorak bagai kemerdekaan yang meledak bersorak sungguh bersorak dengan tepuk tangan yang menggetarkan suasana. Para pemanjat semakin bersemangat menembus tubuh yang belum berkeringat. Penonton tak pernah tahu apa yang ada di benak pemanjat seperti mereka menonton film perang dengan genderang-genderangnya. Tepuk tangan penonton bagai genderang perang yang dipukul lantang. Pemanjat bak aktor yang mengikuti skenario sutradara, musti memanjat tanpa alat, melainkan dengan anggota badannya yang perkasa, naik ke atas terus naik dan memandang barang-barang genteyongan di puncak pohon pinang yang merangsang, mereka melihat barang-barang itu bagai masa depan yang harus diraih dengan susah payah. Padahal tiada sutradara yang menyuteradarai, tiada skenario tertulis, tapi mereka tahu bahwa pinang itu haruslah dipanjat dengan menginjak-injak bahu kawan.

Baca entri selengkapnya »


Saat Kutertawan Dalam Kebebasan

Oktober 19, 2009

Oleh Icuk Ari W.

cm5

I. Rembulan bersenggama dengan malam

II. Angin berhembus kencang di awang-awang, dan suara hening menemani dada yang telanjang.

III. Ketika itu alang-alang menari-nari bersama siulan angin genit yang seenaknya membelai lenkung hijau rumput dan geli tarian alang-alang ada nyamuk yang ter tawa disana.
Baca entri selengkapnya »