November 24, 2009
Pikiran
Angen-angen teka nyangking pedang
Kira-kira arep merjaya cuwa lan kuciwa
Tak coba mikir kanthi wening
Masalah apa bae kang tak sandang
Pikiran mabur sundul langit
Impen muluk-muluk semliweran
Wengi kang cepet
Nalarku mlayu ora karuan parane
Angen-angen teka maneh
Sing gawe mangkel nyeret cuwa-kuciwa
Aku limbung ana klasa
Nalar kang wening kobong dadi awu
Hujan
Hujan puisi
Saat-saat yang menyenangkan
Membentuk kristal air yang indah
September…
Tiada hujan yang sungguh-sungguh
Puisiku sedang sekarat
Dibunuh kelucuan-kelucuan yang tak kusengaja
Saat puisi itu mati
Aku memakamkannya
Tak kusangka…
Di rumah banyak juga pelayat berkostum Popeye
Pengakuan
Dengan senang hati
Imajinasi saya telah saya bunuh
Lalu mengemasnya dalam kardus
Pada penutup kardus saya tulisi:
Bekas Puisi
Beberapa kali saya akui menyontek puisi orang
Tapi, yang saya dapat kematian kata-kata
Suatu hari saya mencoba merangkai kata
Alhasil saya tak menemukan kata-kata secuilpun
Impian
Impian muluk-muluk saya menyelinap
Membeli rumah, tanah, mobil dengan sebait puisi
Atau membangun pemukiman dengan sajak-sajak
Saya telah berharap banyak lewat bait-bait puisi
Tapi semua orang mampu berpuisi
Bahkan mereka dapat bersajak dengan apik
Setelah berbulan-bulan saya mencoba peruntungan
Melelang puisi
Tiada yang menawar
Tiada yang peduli
Hari berikutnya saya kubur impian saya
Hari ini saya putuskan mencangkul untuk puisi
Menggembala kambing untuk puisi
Suatu saat kambing jantan itu saya kurbankan
“Untuk Puisiku Tercinta”
Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Puisi Omblog | Ditandai: poem, poetry, puisi, sajak |
Permalink
Ditulis oleh omblog
November 24, 2009
Cerpen Gao Xingjian
KAU tak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tak lagi menganggapnya sebagai musuh khayalan. Kau meninggalkan bayangan itu, berhenti berkhayal dan melamunkan hal aneh-aneh dan kini terpuruk dalam kehampaan yang damai. Kau datang ke dunia dengan telanjang, tiada yang membutuhkanmu dan andai kau membutuhkan sesuatu, kau tak akan mampu melakukannya. Satu-satunya takutmu hanyalah pada maut yang datang tiba-tiba.
Kau ingat rasa takutmu pada maut berawal dari masa kecil. Saat itu rasa takut itu lebih besar daripada kini. Kesedihan sepele membuatmu cemas, seolah-olah itu adalah penyakit yang tak terobati dan saat kau jatuh sakit kau akan mengigau ketakutan.
Kau telah bertahan melalui berbagai penyakit dan bencana yang kau lewati dengan kemujuran. Kehidupan itu sendiri adalah keajaiban yang tak bisa dijelaskan dan hidup di dalamnya adalah perwujudan keajaiban. Tak cukuplah bahwa sesosok tubuh yang sadar bisa merasakan sakit dan senang dalam hidup ini? Apalagi yang mesti dicari?
Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Cerpen Mereka | Ditandai: cerita, cerpen |
Permalink
Ditulis oleh omblog
November 9, 2009
Kalbu menep meneng
Ati kang tumata
Ora ana panasing hawa
Sepi kuwi banyu,
mili menep ing kalbu,
ing sungsuming jiwa iki
Sepi wengi iki
Heneng, hening, heling
Jagad lagi gumulung
Ponorogo, 9 September 2009
Geguritan ini dimuat Kalawarti Panjebar Semangat; edisi 42; 17 Oktober 2009
& Komentar |
Puisi Omblog | Ditandai: geguritan, gurit |
Permalink
Ditulis oleh omblog
November 9, 2009
Cerpen Yasunari Kawabata
Dalam hembusan angin malam daun-daun pohon delima jatuh berguguran. Helai-helai dedaunan terserak melingkar di pelataran.
Kimiko terkejut saat melihat pohon itu meranggas di pagi hari dan terheran-heran menyaksikan lingkaran dedaunan yang terserak begitu sempurna di bawahnya. Ia berharap angin akan mengacaukannya.
Sebutir buah delima yang ranum tertinggal di pohon itu.
“Kemarilah, lihat itu,” seru gadis itu pada ibunya.
“Aku menyia-nyiakan pohon itu.” Ibunya memandang sekilas ke arah pohon delima itu dan kembali ke dapur.
Semua itu membuat Kimiko teringat kesepian mereka. Pohon delima di samping beranda itupun kesepian dan terlupakan.
Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Cerpen Mereka |
Permalink
Ditulis oleh omblog